Sabtu, 22 Mei 2010

DAN KEISLAMANMU, ITULAH MAHARKU

Bergetar hatiku disaat ku tuliskan kata “Cuma minta mahar KEISLAMAN dia dengan ikhlas”

Kelihatannya begitu mudah tapi banyak mengurai air mataku, Mampukah diriku, Sanggupkah aku?????

Yang ku tahu Alloh Maha Mengetahui yang terbaik untuk diriku.
Jika membaca tulisan diatas “Dan Keislamanmu, Itulah Maharku” aku ingat saat ku membaca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu”. Banyak pelajaran yang kupetik dari buku ini dimana salah satunya mengatakan bahwa wanita mulia mengajari kita tentang pernikahan dalam konteks da’wah. Ya dakwah... pernah mendengar Radhiyallahu ‘Anha Ummu Sulaim Al Ghumidha binti Milhan, yang menikah dengan menjadikan keislaman suami sebagai maharnya.

Al Imam An Nasa’i dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan kisah pinangan Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Ia mengisahkan melalui lisan putra tercinta Ummu Sulaim, Anas ibn Malik, bahwa ia berkata :
“Abu Thalhah telah melamar Ummu Sulaim, Maka Ummu Sulaim berkata, “Demi Allah, tiada mungkin seorang seperti dirimu wahai Abu Thalhah, akan ditolak lamarannya. Tetapi engkau adalah laki-laki kafir, sedang aku seorang wanita muslimah. Tiada halal bagiku untuk menikah denganmu. Tetapi jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku, dan aku tidak akan meminta kepadamu yang selain itu.”
Ini bukan berarti Ummu Sulaim berselera rendah. Kalau bicara tentang menawarkan diri pada orang shalih sebagai selera tinggi, Ummu Sulaim mencontohkan selera yang jauh lebih tinggi. Maksudnya kalau kau menawarkan diri pada orang shalih berarti kau menjaga keselamatan agama dengan memilih pembimbing yang mulia, maka seperti Ummu Sulaim adalah “mencipta” seorang pembimbing yang mulia, menjadi jalan hidayah baginya. Sungguh indah jika benar-benar kita mampu melakukannya “Living in a good circumstance is good, but creating a good circumstance is better”


Di Jalan Nikah Aku Berdawah


Sungguh butuh suatu perjuangan dan keberanian tuk bisa mendeklarasikan “Dijalan Nikah Aku Berdakwah”. Terlebih untuk bisa menjadi seperti Ummu Sulaim.
Ada catatan lain bahwa “Dijalan Nikah Aku Berdakwah” seperti Ummu Sulaim tak sekedar aksi nekad, atau terpaksa ( karena nggak ada yang lain heheheee ). Ini memerlukan bekalan agung, sebagaimana da’wah juga memerlukan.
Banyak dari beberapa kasus yang terjadi kini ada motif pemurtadan dengan pacarisasi, zinaisasi, hamilisasi lalu kawinisasi dan akhirnya ancamisasi untuk ceraisasi kalau tak mau menjadi Nasari. Dari sinilah kita belajar bahwa mulanya adalah kedatangan seorang laki-laki yang menampakan kebaikan, perhatian dan kasih kepada seorang muslimah. Perkenalan berlanjut. Yang tak tahu malu tentu langsung ada proses pacarisasi dan zinaisasi hingga hamilisasi. Yang lain, melangkah ke jenjang pernikahan dengan beberapa hal yang diselimuti ketidakjelasan. Misalnya tentang keluarga si lelaki yang mengaku perantau berat.

Ketika hadir anak-anak ditengah kehidupan pasangan ini dan sang muslimah ada dalam kondisi lemah, kembalilah si musang datang pada kekufurannya disertai paksaan agar sang muslimah mengikutinya. Posisi lemah sang muslimah menjadikannya menyerah. Tak ada penghasilan sendiri, tidak bisa kembali ke ortu karena dulu menikah tanpa restu, tak bisa mandiri, bagaimana membesarkan anak-anak nanti dan bayang-bayang masa depan lainnya. Benarlah Rosulullah, kefakiran mendekatkan diri pada kekafiran.
Na’udzubillah min dzalik. Apa yang sejatinya perlu dipertimbangkan untuk menikah demi dakwah? Pertimbangan ini tentu tak hanya bermanfaat bagi para muslimah, tetapi juga kepada para lelaki muslim.

Satu, mengukur kualitas diri. Maksudnya adalah apakah kepribadian kita dominan atau gambang goyah. Apakah kita punya kekuatan argumentasi. Apakah kita sudah benar-benar bisa menegakkan manajemen cinta dan cinta sehat. Bagaiamana bekal ilmu kita, bekal keyakinan kita, bekal pernikahan kita dan lainnya. Kalau dakwah adalah jalan Rosulullah, maka inilah yang diperintahkan pada beliau:
“Katakanlah: Inilah jalanku, Aku menyeru kepada Alloh diatas argumentasi yang nyata. Aku dan orang-orang yang mengikuti. Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” ( Yusuf 108 )

Dua, mempersiapkan kualitas diri. Maksudnya kemandirian, keteguhan, istiqamah, dan yang lainnya. Demi Alloh, tidak ada standarisasi khusus seberapakah kualitas diri dan keagamaan seseorang untuk dapat berdakwah dijalan nikah. Sebagaimana Ummu Sulaim juga belum begitu lama masuk Islam ketika dipinang Abu Thalhah. Modal utamanya adalah (1) kesiapan untuk terus belajar dan (2) selalu membersamai orang-orang shalih.

Tiga, seriuslah dalam ta’aruf. Ada banyak orang yang terlena menikmati masa ta’arufnya. Ya, mereka sekedar untuk membayangkan masa-masa indah dipernikahan nanti setelah melihat keindahan fisik calon pasangannya atau sedikit pengenalan tentang prilakunya yang manis. Seharusnya tidak begitu. Kita harus benar-benar serius dalam ta’aruf untuk mengenal calon pasangan kita. Keseriusan itu tidak ditunjukkan dengan semangat untuk sering bertemu dan sering bersama. Tetapi semangat untuk menggali sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya tentang si dia dan juga tentang keluarganya, bahkan teman-temannya.

Empat, lakukan uji kualitas dirinya. Ada banyak cara yang dapat kita pilih tentu. Tanyakan apa motivasinya menikah dengan kita, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang kita anggap perlu untuk mengeksplorasi dirinya
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian wanita-wanita yang beriman, maka hendaklah kalian uji keimanan mereka. Alloh lebih Mengetahui tentang keimanan mereka...” ( Al Mumtahanah 10 )
Cara yang lain ? mungkin tak seekstrem untuk mencoba memutus interaksi sebagai ujian. “Kurasa, ada yang jauh lebih berhak untuk menikah dengan anda. Insyaalloh, dia juga jauh lebih baik dalam agama daripada saya meski secara fisik..., saya belum tahu pendapat anda tentang dia..”

Lihatlah reaksinya. Apakah ia seperti dikonsultasikan kepada Ustadzah Luthfiah Sungkar suatu ketika, berkata bahwa ia tidak bisa hidup dengan benar tanpa bimbingan anda. Kalau sekedar kata-kata ini mungkin masih bisa ditolerir. Tetapi kalau justru berekspresi menjadi kembalinya ia ke kehidupan jahiliah: mabuk, ingin bunuh diri, dan lainnya tahulah kita. Tahulah kita bahwa komitmennya untuk hijrah bukan karena Alloh. Bukan karena Alloh, sekedar karena kita atau motif lain dibaliknya. Ingat memposisikan diri anda sebagai sebab bagi seseorang untuk melalukan perbaikan diri bukanlah kebaikan. Bahkan boleh jadi, anda masuk kategori menundudukan diri sebagai tandingan bagi Alloh dalam niat seseorang.
Lima, jika memang saat itu tiba dalam kehidupan kita, bersiaplah untuk mengatakan dengan gagah “Dengan kembalinya engkau pada kekufuran, maka putuslah ikatan diantara kita. Aku tak lagi halal bagimu dan engkau tak lagi halal bagiku!”


Begitulah ya ukhti..sudah siapkah kita tuk bisa menjadi Ummu Sulaim Ummu Sulaim masa kini ? Terlebih berani mendeklarasikan “DiJalan Nikah Aku Berdakwa”
Bukankah memang didalam Islam, dakwah adalah tugas bagi setiap muslim ataupun muslimah. Niatkanlah semua hanya karena Alloh, Insyaalloh Alloh kan selalu membimbing hati kita, karena Allah adalah Pemilik Hati kita.
Semoga bisa bermanfaat terutama bagi diri saya sendiri yang masih banyak harus terus belajar dan belajar lagi dan bisa menambah wawasan bagi yang telah membacanya.
Jazakumullahu ahsanal jaza’
Wassalamu’alaikum wr.wr
( Sumber : Agar Bidadari Cemburu Padamu )

HATIKU

Apa yang terjadi dengan hatiku ini ???

Tak bisa berasa apapun saat ini...maafkan buat seseorang yang begitu masih ingat padaku meski ku sering acuh padamu. Terima kasih kamu mau menyapaku lagi.

Ku benar2 tak bisa berfikir hanya karena hatiku terluka karena seseorang yang mungkin saat ini telah melupakanku, dan ku sekarang terlalu takut tuk mengenal engkau...

Maafin aku jika pikiranku terlalu sempit sehingga menganggap setiap laki-laki berhati sama padahal ku tahu setiap orang berbeda...

Ku saat ini hanya ingin sendiri, meski ku tahu tak akan bisa hidup sendiri karena ku butuh batuan orang lain termasuk kamu... Doakan aku tuk bisa melewati saat-saat terberatku dimana seolah-olah dunia sedang menghimpitku dengan berbagai masalah...

Ingin ku bisa berlari sejauh mungkin... Ku tak tahu sampai kapan ku mampu tuk bertahan...Ku terjatuh saat ini benar-benar jatuh. Apa yang bisa aku lakukan, aku bingung,,,,sedih....menangis...serasa ku tak mampu berbuat apapun..
Diam ya aku Cuma bisa diam.., Alasan, pengertian tak lagi berguna...
Silent is gold meski kutahu tak selama diam itu emas...

Minggu, 16 Mei 2010

Taushiyah Tauhid

Alloh Maha Tahu isi hati kita, kunci ingin dekat dengan Alloh adalah kejujuran dan kemurnian dilubuk hati terdalam, tidak boleh ada kepalsuan dan kebohongan sekecil apapun.

Bergabung jin dam manusia seluruhnya akan mendatangkan sebutir nasi saja, pasti tak sanggup bila Alloh tak mengizinkannya. Semua karunia dan manfaat hanya akan terjadi dengan izin Alloh.

Demikian pula musibah, walau bergabung jin dan manusia seluruhnya mau mencelakakan diri kita, pasti tak akan terjadi tanpa izin Alloh, Dialah penguasa setiap kejadian.

Bila Alloh menghendaki sesuatu, pasti akan terjadi tanpa bisa ditolak siapapun, Kekuasaan Allohmutlak. Maka bersandarlah kepada Alloh seutuhnya sambil menyempurnakan ikhtiar.

Mau lari kemanapun, menjerit sekeras apapun, mengiba meminta belas kasian dan pertolongan siapapun...Tetap saja pertolongan hanya datang dari Alloh semata bukan dari selain-Nya

Siti Hajar adalah orang yang yakin dengan janji Alloh, namun beliau lari antara Sofa Marwah sebanyak 7 kali...Siapapun yang bulat hati tawakal, jangan lalai menyempurnakan ikhtiar.

Tugas kita adalah meluruskan niat agar benar-benar murni lillahita’ala, sempurnakan ibadah, sempurnakan ikhtiar dan sempurnakan tawakal, isnyaalloh akan mendapatkan ketentuan yang terbaik.
Setiap makhluk adalah milik Alloh, karena Dia yang menciptakan dan mengurusnya setiap saat, tak ada satupun yang luput dari kekuasaan-Nya, tak ada yang bisa terjadi tanpa izin-Nya.

Sesungguhnya kita tak pernah sendiri dalam hidup ini dimanapun, kapanpun. Karena Alloh selalu hadir, Dialah Yang menciptakan dan Dia pulah yang mengurus kita setiap saat.

Sebetulnya kita masih dihargai orang lain, karena Alloh masih menutupi aib dan dosa-dosa, mari tafakuri dengan jujur apa yang terjadi bila Alloh membeberkan siapa diri kita yang sebenarnya.

Tak pernah ada yang luput dari tatapan Alloh, Alloh benar-benar Maha Menyaksikan apapun yang kita lakukan, tak ada yang tersembunyi, tak bisa berdusta sama sekali dihadapan Alloh.

Kita sering menganggap kedzoliman hanya terhadap makhluk, padahal menurut Alloh dalam surat Luqman ayat 13 : Sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah kedzoliman yang amat besar.

Semakin berharap kepada selain Alloh maka hati akan semakin gelisah, semakin tak berharap apapun dari siapapun selain Alloh, hati akan semakin tenang dan nyaman.

Barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupin kebutuhannya ( At-Talaq : 3 ), semakin ragu dan berpaling dari Alloh semakin merasa kurang tak pernah cukup.

Bila ada orang yang melihat....bersemangat dan bila tak ada yang melihat, tak semangat beramal, itu menunjukkan tak ikhlas, padahal ada atau tiada yang melihat, Alloh pasti Melihat.
Semua karunia adalah mutlak milik Alloh dan dibagikan oleh Alloh semata, sedangkan makhluk hanyalah jalan sampaikan nikmat atau ujian hidup, bukan sebagai sumbernya.

Langit yang 7, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tapi kamu sekalian tak mengerti tasbih mereka ( QS. 17 : 44 )

Ketenangan batin tak akan diperoleh dari harta, kedudukan, kekuasaan, popularitas, pujian, penghormatan manusia...ketenangan hanya datang dari Alloh semata, Pemilik hati kita.

Dia-lah Alloh yang menurunkan sakinah dihati orang yang beriman, sebagai hadiah bagi orang yang yakin dan patuh kepada-Nya, berarti yang tak yakin dan tak patuh, tak kan pernah sakinah.

Barangsiapa yang bertaqwa niscaya Alloh akan memberi jalan keluar dari persoalan dan rezki yang tak terduga-duga ( At-Talaq : 2 ). Solusi terbaik bukan dari kecerdasaan semata tapi dari ketaqwaan.

Tak satupun persoalan yang ada di alam ini kecuali pasti Alloh Maha Tahu semua solusinya, dekatilah Alloh, patuhlah lahir dan batin, niscaya Alloh akan menuntun kita.

Dialah Alloh yang tak terjangkau oleh pandangan mata, dan Dia menjangkau segala penglihatan, karena Dia Maha Lembut dan Maha Mengetahui dengan teliti ( An-Nam : 103 )

Jagalah pandangan, tak ada yang luput dari penglihatan Alloh, setiap lirikan mata, setiap khianat mata, akan menebalkan hijab hati, menghilangkan nikmatnya ibadah.

Kita tak pernah memiliki apapun, bahkan diri kita sendiri bukan milik kita, semua hanya milik Alloh dan hanya titipan sejenak, yang tak bisa dibawa mati, hanya amal bekal kita.

Ketika kita bayi, kita benar-benar makhluk yang amat lemah, tak paham apapun, namun ternyatamakan, minum, pakaian tercukupi bahkan sampai detik ini, masihkan ragu dengan jaminan Alloh ?

Jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang AKU, sesungguhnya AKU dekat, AKU perkenankan doa orang yang berdoa, maka hendaklah memenuhi panggilan-Ku dan percaya pada-KU ( QS. 2 : 186 )

Berdoa bukanlah untuk memberi tahu Alloh tentang kebutuhan kita, tapi doa adalah ibadah, amal yang disukai-Nya. Maka berdoalah dengan penuh kesungguhan dan ketawadhuan serta ketulusan

Minggu, 02 Mei 2010

MANUSIA BIASA

Ku tahu sebaik apapun ku berusaha

Ku hanya manusia biasa

Yang penuh lupa dan dosa

Tapi pada-Mu ya Rabb ku pinta

Siapapun jodoh yang Engkau siapkan untukku

Semoga ku bisa menjadi yang terbaik baginya

Karena kutahu ya Rabb-ku

Dialah yang tebaik untukku

Dan semoga Ya Rabb

Semoga....Dalam naungan cinta-Mu

Kita dapat bersama

Dan selalu saling mengingatkan

Untuk sebuah cinta suci mulia

Agar dapat kembali bersua,

Disurga-Mu nanti.

For My Future Husband