Bergetar hatiku disaat ku tuliskan kata “Cuma minta mahar KEISLAMAN dia dengan ikhlas”
Kelihatannya begitu mudah tapi banyak mengurai air mataku, Mampukah diriku, Sanggupkah aku?????
Yang ku tahu Alloh Maha Mengetahui yang terbaik untuk diriku.
Jika membaca tulisan diatas “Dan Keislamanmu, Itulah Maharku” aku ingat saat ku membaca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu”. Banyak pelajaran yang kupetik dari buku ini dimana salah satunya mengatakan bahwa wanita mulia mengajari kita tentang pernikahan dalam konteks da’wah. Ya dakwah... pernah mendengar Radhiyallahu ‘Anha Ummu Sulaim Al Ghumidha binti Milhan, yang menikah dengan menjadikan keislaman suami sebagai maharnya.
Al Imam An Nasa’i dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan kisah pinangan Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Ia mengisahkan melalui lisan putra tercinta Ummu Sulaim, Anas ibn Malik, bahwa ia berkata :
“Abu Thalhah telah melamar Ummu Sulaim, Maka Ummu Sulaim berkata, “Demi Allah, tiada mungkin seorang seperti dirimu wahai Abu Thalhah, akan ditolak lamarannya. Tetapi engkau adalah laki-laki kafir, sedang aku seorang wanita muslimah. Tiada halal bagiku untuk menikah denganmu. Tetapi jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku, dan aku tidak akan meminta kepadamu yang selain itu.”
Ini bukan berarti Ummu Sulaim berselera rendah. Kalau bicara tentang menawarkan diri pada orang shalih sebagai selera tinggi, Ummu Sulaim mencontohkan selera yang jauh lebih tinggi. Maksudnya kalau kau menawarkan diri pada orang shalih berarti kau menjaga keselamatan agama dengan memilih pembimbing yang mulia, maka seperti Ummu Sulaim adalah “mencipta” seorang pembimbing yang mulia, menjadi jalan hidayah baginya. Sungguh indah jika benar-benar kita mampu melakukannya “Living in a good circumstance is good, but creating a good circumstance is better”
Di Jalan Nikah Aku Berdawah
Sungguh butuh suatu perjuangan dan keberanian tuk bisa mendeklarasikan “Dijalan Nikah Aku Berdakwah”. Terlebih untuk bisa menjadi seperti Ummu Sulaim.
Ada catatan lain bahwa “Dijalan Nikah Aku Berdakwah” seperti Ummu Sulaim tak sekedar aksi nekad, atau terpaksa ( karena nggak ada yang lain heheheee ). Ini memerlukan bekalan agung, sebagaimana da’wah juga memerlukan.
Banyak dari beberapa kasus yang terjadi kini ada motif pemurtadan dengan pacarisasi, zinaisasi, hamilisasi lalu kawinisasi dan akhirnya ancamisasi untuk ceraisasi kalau tak mau menjadi Nasari. Dari sinilah kita belajar bahwa mulanya adalah kedatangan seorang laki-laki yang menampakan kebaikan, perhatian dan kasih kepada seorang muslimah. Perkenalan berlanjut. Yang tak tahu malu tentu langsung ada proses pacarisasi dan zinaisasi hingga hamilisasi. Yang lain, melangkah ke jenjang pernikahan dengan beberapa hal yang diselimuti ketidakjelasan. Misalnya tentang keluarga si lelaki yang mengaku perantau berat.
Ketika hadir anak-anak ditengah kehidupan pasangan ini dan sang muslimah ada dalam kondisi lemah, kembalilah si musang datang pada kekufurannya disertai paksaan agar sang muslimah mengikutinya. Posisi lemah sang muslimah menjadikannya menyerah. Tak ada penghasilan sendiri, tidak bisa kembali ke ortu karena dulu menikah tanpa restu, tak bisa mandiri, bagaimana membesarkan anak-anak nanti dan bayang-bayang masa depan lainnya. Benarlah Rosulullah, kefakiran mendekatkan diri pada kekafiran.
Na’udzubillah min dzalik. Apa yang sejatinya perlu dipertimbangkan untuk menikah demi dakwah? Pertimbangan ini tentu tak hanya bermanfaat bagi para muslimah, tetapi juga kepada para lelaki muslim.
Satu, mengukur kualitas diri. Maksudnya adalah apakah kepribadian kita dominan atau gambang goyah. Apakah kita punya kekuatan argumentasi. Apakah kita sudah benar-benar bisa menegakkan manajemen cinta dan cinta sehat. Bagaiamana bekal ilmu kita, bekal keyakinan kita, bekal pernikahan kita dan lainnya. Kalau dakwah adalah jalan Rosulullah, maka inilah yang diperintahkan pada beliau:
“Katakanlah: Inilah jalanku, Aku menyeru kepada Alloh diatas argumentasi yang nyata. Aku dan orang-orang yang mengikuti. Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” ( Yusuf 108 )
Dua, mempersiapkan kualitas diri. Maksudnya kemandirian, keteguhan, istiqamah, dan yang lainnya. Demi Alloh, tidak ada standarisasi khusus seberapakah kualitas diri dan keagamaan seseorang untuk dapat berdakwah dijalan nikah. Sebagaimana Ummu Sulaim juga belum begitu lama masuk Islam ketika dipinang Abu Thalhah. Modal utamanya adalah (1) kesiapan untuk terus belajar dan (2) selalu membersamai orang-orang shalih.
Tiga, seriuslah dalam ta’aruf. Ada banyak orang yang terlena menikmati masa ta’arufnya. Ya, mereka sekedar untuk membayangkan masa-masa indah dipernikahan nanti setelah melihat keindahan fisik calon pasangannya atau sedikit pengenalan tentang prilakunya yang manis. Seharusnya tidak begitu. Kita harus benar-benar serius dalam ta’aruf untuk mengenal calon pasangan kita. Keseriusan itu tidak ditunjukkan dengan semangat untuk sering bertemu dan sering bersama. Tetapi semangat untuk menggali sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya tentang si dia dan juga tentang keluarganya, bahkan teman-temannya.
Empat, lakukan uji kualitas dirinya. Ada banyak cara yang dapat kita pilih tentu. Tanyakan apa motivasinya menikah dengan kita, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang kita anggap perlu untuk mengeksplorasi dirinya
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian wanita-wanita yang beriman, maka hendaklah kalian uji keimanan mereka. Alloh lebih Mengetahui tentang keimanan mereka...” ( Al Mumtahanah 10 )
Cara yang lain ? mungkin tak seekstrem untuk mencoba memutus interaksi sebagai ujian. “Kurasa, ada yang jauh lebih berhak untuk menikah dengan anda. Insyaalloh, dia juga jauh lebih baik dalam agama daripada saya meski secara fisik..., saya belum tahu pendapat anda tentang dia..”
Lihatlah reaksinya. Apakah ia seperti dikonsultasikan kepada Ustadzah Luthfiah Sungkar suatu ketika, berkata bahwa ia tidak bisa hidup dengan benar tanpa bimbingan anda. Kalau sekedar kata-kata ini mungkin masih bisa ditolerir. Tetapi kalau justru berekspresi menjadi kembalinya ia ke kehidupan jahiliah: mabuk, ingin bunuh diri, dan lainnya tahulah kita. Tahulah kita bahwa komitmennya untuk hijrah bukan karena Alloh. Bukan karena Alloh, sekedar karena kita atau motif lain dibaliknya. Ingat memposisikan diri anda sebagai sebab bagi seseorang untuk melalukan perbaikan diri bukanlah kebaikan. Bahkan boleh jadi, anda masuk kategori menundudukan diri sebagai tandingan bagi Alloh dalam niat seseorang.
Lima, jika memang saat itu tiba dalam kehidupan kita, bersiaplah untuk mengatakan dengan gagah “Dengan kembalinya engkau pada kekufuran, maka putuslah ikatan diantara kita. Aku tak lagi halal bagimu dan engkau tak lagi halal bagiku!”
Begitulah ya ukhti..sudah siapkah kita tuk bisa menjadi Ummu Sulaim Ummu Sulaim masa kini ? Terlebih berani mendeklarasikan “DiJalan Nikah Aku Berdakwa”
Bukankah memang didalam Islam, dakwah adalah tugas bagi setiap muslim ataupun muslimah. Niatkanlah semua hanya karena Alloh, Insyaalloh Alloh kan selalu membimbing hati kita, karena Allah adalah Pemilik Hati kita.
Semoga bisa bermanfaat terutama bagi diri saya sendiri yang masih banyak harus terus belajar dan belajar lagi dan bisa menambah wawasan bagi yang telah membacanya.
Jazakumullahu ahsanal jaza’
Wassalamu’alaikum wr.wr
( Sumber : Agar Bidadari Cemburu Padamu )